Sabtu, 13 Mei 2017
Aliran Rasa Gaya Belajr Anak
Sabtu, 06 Mei 2017
Bunda Sayang || Game 4 || Konklusi
Bunda Sayang || Game 4 || Memandikan Adik
Bunda Sayang || Game 4 || Shalat Berjamaah
Bunda Sayang || Game 4 || Role Model Anak
Bunda Sayang || Game 4 || Belajar Menggerus Bumbu
Bunda Sayang || Game 4 || Merapikan Mainan
Bunda Sayang || Game 4 || Belajar Mandiri
Bunda Sayang || Game 4 || gigi
Bunda Sayang || Fitrah Belajar || Game 4 || Hari kedua
Bunda Sayang || Fitrah Belajar || Hari 1
Sabtu, 18 Maret 2017
Aliran Rasa || Bunda Sayang || Melatih Kemandirian
Mengajarkan sikap mandiri pada anak memang tidak bisa dilakukan secara instan. Dalam hal ini membutuhkan proses dan teknik yang berkualitas. Disamping itu, mengajarkan kemandirian anak usia dini membutuhkan kesabaran.
Sikap mandiri sebaiknya diajarkan sejak usia 2 atau 3 tahun karena pada usia tersebut bisa dibilang pondasi atas sikap yang kelak dibawa hingga dewasa.
Melatih kemandirian pada anak usia dini bisa dilakukan dengan membiasakan melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang bersifat sederhana.
Jumat, 10 Maret 2017
Kemandirian 1
Melatih Kemandirian 1.
Hari ini kami ingin melatih kemandirian anak sulung kami. Fatih namanya. Fatih masih berusia 15 bulan dan sudah punya adik bayi. Pada usianya yg ke 6 bulan, saya hamil anak kedua. Hingga akhirnya asi dibantu dg sufor. Setelah nak kedua lahir, sya ingin memberikan ASI lg. Sayangnya karena sudah ketergantungan dg DOT, susah untuk.mnghilngkn kebiasaan tersebut. Berimbas pada makanan yg dikonsumsi dan lebih banyak minum sufor.
Kemandirian 2
Melatih kemandirian 2
Hari ini adalah hari pertama kami memulai menyapih kakak. Minum susu dengan gelas dan tanpa DOT.
Dan sungguh.. hari pertama ini begitu berat, karena tidak hanya meringis saja, tapi menangis dan gulung2 di lantai. Tapi dg tenang tenang tetap kami berikan sounding. Minumnya pakai susu di gelas ya dek. Sembari kami sodorkan gelas yg didalamnya di isi susu. Sementara cemilan yg dimakan kami berikan mangkuk plastik dan tidak disuapi.
Kemandirian 3
Melatih kemandirian 3
Ini adalah hari ketiga, rengekan meminta botol susu agak mereda. Dan merengek meminta susu.akhirnya saya buatkan susu di gelas setiap pagi, siang, sore, dan malam. Dan jika biasanya setelah makan selalu minum susu, kini kami biasakan minum air putih di gelas.
Awalnya sering tersedak. Akhirnya kami ubah dengan menggunakan. Sedotan. Alhasil progres hati ketiga memang sudah berkurang rengekan minta DOT,tetapi saat tidur masih blum bisa menghilangkan rengekan. Itu.
Kemandirian 4
Melatih kemandirian 4
Hari ke empat adalah hari cukup menyenangkan bagi saya. Kini si kakak sudah mulai terbiasa minum susu tanpa DOT. Memang minumnya tidak banyak seperti biasanya. Jika biasanya sampai 6 botol perhari, kini hanya 3 gelas perhari. Dan pelariannya ke makanan atau camilan. Camilan yang dimakan cukup banyak. Sehingga kami menyiapkan camilan untuk esok hari sebagi persiapan. Sayangnya, ketika meminta makanan, si kakak tidak menyampaikan lagi dg kata *maem* tapi menangis. Setelah diberi makan baru diam dan semyum2. Begitu juga minum, yg biasanya bilang *mikmik*, hanya menangis saja. Saya sudah mulai berpikir strategi. Saya sounding ulang dalam 1 hari ini, "mas, kali makan, bilang Maman ya", sambil saya memegang Snack atau piring berisi nasi.
Kemandirian 5
Melatih kemandirian ke lima
Hari kelima sepertinya sudah menjadi hal biasa bagi kakak minum susu tanpa dot. Dia tidak lagi mencari botol susunya, tetapi mencari makanan. Dengan kata lain, ini adalah hari kedua saya mengajari anak saya minum air putih di gelas sendiri dan maem pakai mangkuk sendiri. Selain itu, tidak lepas dari mengajarkan untuk mengucapkan kata maem dan mimik ketika akan meminta makan dan minum.
Pagi saya berikan nasi dalam mangkuk. Secara motorik kasar kakak bisa makan tanpa sendok, tapi menggunakan sendok. Namun jika menggunakan sendok, tumpah semua k lantai. Begitu jg dengan minum, air yg dipegang sendiri tumpah ke seluruh baju. Iya Ok dear, Qt lagi belajar... ,🌸
Melatih kemandirian 6
Melatih kemandirian 6.
Alhamdulillah, sudah hampir satu Minggu, si kakak tidak meminta dot. Tidurnya pun tenang, tidak menangis ketika tengah malam. Dan setiap pagi saat makan, makan sendiri tanpa sendok. Tapi jika pkai kuah, pkai sendok, kembali tumpah llg. Dengan sabar kami ajari si kakak. Tetapi tetap saja tumpah. Suami yg menghela napas panjang, saya nasihati jga agar lebih sabar. Maklum, suami suka sesuatu yg bersih.
Kemandirian 7
Kemandirian 7.
Seminggu sudah kami memberikan treatment minum susu tanpa botol dan dot. Memang perlu pembiasaan. Alhamdulillah sudah terbebas dari botol dan dot, dan kini sudah mulai lancar minum air di gelas meski dikit-dikit tumpah. Begitu juga makanan ringan. Anak lebih mandiri dan lebih suka makan tanpa dot. Kini saya beralih untuk fokus mmberikan pengarahan untuk mnyampaikn keinginan keinginan makan dan minum tanpa menangis. Setiap hari saya sounding anak saya agar klo mimik bilang mimik. Jika mau maem, bilang maem. Memang belum mau bilang, tpi setidaknya sudah nunjuk3 kulkas dan tempat makanan. Progres itu butuh kesabaran.
Melatih kemandirian 8
Kemandirian. 8.
Tetap saja hari ini si kakak mnunjuk2 tempat makan, jika lapar. Beruntungnya kakak sudah mulai bilang mikmik aja. Paling tidak saya tahu apa yg diinginkan. Yah, minum air putih. Dan saat ini minumnya sudah tidak mau dipegangi lagi sama bundanya. Tpi dipegang sendiri. Yah, anak saya sudah mulai belajar mandiri. Tpi terkadang tetap saja saya sebagai ibu was2 karena tumpahan air akan membuatnya terpeleset.
Melatih kemandirian 9
Kemandirian 9.
Hari kesembilan, semuanya sudah mulai mudah bagi saya.setidaknya ada progres dari kakak. Jika makan masih tetap mnunjuk2 kulkas, sekarang ditambah lagi ngambil mangkuk plastik sendiri di rak dapur. Tidak lupa bilang Mam.. nanam.. mamm..
Saya suka itu...
Melatih kemandirian 19
Hari ke 10,
Memang selama 2pekan ini saya melatih kakak untuk minum tanpa dot, sounding minim gelas, makan dan minum sendiri. Diawali dengan proses rengekan tangis yg membuat saya dan ayahnya tidak tega. Tapi tetap kami lakukan. Demi kebaikan. Awalnya susuah, tapi dengan kesabaran, sedikit demi sedikit terlihat hasil, sekalipun prosesnya bagi saya cukup bikin lelah,, ya.. tumpahan2 air dan makanan di lantai membuat saya harus ngepel berkali-kali. Trrmasih digigit semut merah.. tpi itu cukup menyenangkan..
Melatih kemandirian 1
Melatih Kemandirian 1.
Hari ini kami ingin melatih kemandirian anak sulung kami. Fatih namanya. Fatih masih berusia 15 bulan dan sudah punya adik bayi. Pada usianya yg ke 6 bulan, saya hamil anak kedua. Hingga akhirnya asi dibantu dg sufor. Setelah nak kedua lahir, sya ingin memberikan ASI lg. Sayangnya karena sudah ketergantungan dg DOT, susah untuk.mnghilngkn kebiasaan tersebut. Berimbas pada makanan yg dikonsumsi dan lebih banyak minum sufor.
Sabtu, 18 Februari 2017
Komunikai Produkif
Bismillahirrohmanirrohiim....
Hi Moms, mari kita berbicara mengenai komunikasi. Tentu saja komunikasi adalah hal yang penting dalam kehidupan. Bagaimana bisa beinteraksi jika tidak berkomunikasi. Ntah itu dengan diri kita sendiri, suami, anak-anak, atau lingkunga sekitar kita.
Pada pembahasan kuliah Bunda Sayang oleh Ibu-Ibu Profesional, salah satu hal yang pening adalah komunikasi produktif.
Nah lho...?!?! Apa sih komunikasi produkif itu??
Well, mari kita bahas di sini. Ocy..
KOMUNKASI PRODUKIF
Pertama, kita membahas mengeai mengapa harus komunikasi produkif..?
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. Ganti kata “TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
“Masa sih cuma jalan segitu aja capek?”
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari
Langganan:
Komentar (Atom)