Sabtu, 18 Februari 2017

Komunikai Produkif

Bismillahirrohmanirrohiim.... Hi Moms, mari kita berbicara mengenai komunikasi. Tentu saja komunikasi adalah hal yang penting dalam kehidupan. Bagaimana bisa beinteraksi jika tidak berkomunikasi. Ntah itu dengan diri kita sendiri, suami, anak-anak, atau lingkunga sekitar kita. Pada pembahasan kuliah Bunda Sayang oleh Ibu-Ibu Profesional, salah satu hal yang pening adalah komunikasi produktif. Nah lho...?!?! Apa sih komunikasi produkif itu?? Well, mari kita bahas di sini. Ocy.. KOMUNKASI PRODUKIF Pertama, kita membahas mengeai mengapa harus komunikasi produkif..? Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita. KOMUNIKASI DENGAN ANAK Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik. Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya. Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya. Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka. Bagaimana Caranya ? a. Keep Information Short & Simple (KISS) Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk ⛔Kalimat tidak produktif : “Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu. ✅Kalimat Produktif : “Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain) b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh ⛔Kalimat tidak produktif: “Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya) ✅Kalimat Produktif : “Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya) Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati. c. Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan ⛔Kalimat tidak produktif : “Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !” ✅Kalimat produktif : “Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar” d. Fokus ke depan, bukan masa lalu ⛔Kalimat tidak produktif : “Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!” ✅Kalimat produktif : “Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi” e. Ganti kata “TIDAK BISA” menjadi “BISA” Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya. f. Fokus pada solusi bukan pada masalah ⛔Kalimat tidak produktif : “Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!” ✅Kalimat produktif: “ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”. g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut. ⛔Pujian/Kritikan tidak produktif: “Waah anak hebat, keren banget sih” “Aduuh, nyebelin banget sih kamu” ✅Pujian/Kritikan produktif: “Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak” “Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?” h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman ⛔Kalimat Tidak Produktif: “Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat” ✅Kalimat Produktif: “Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur. I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi ⛔Kalimat tidak produktif : “Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah? ✅Kalimat produktif : “ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?” j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati ⛔Kalimat tidak produktif : “Masa sih cuma jalan segitu aja capek?” ✅kalimat produktif : kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini? k. Ganti perintah dengan pilihan ⛔kalimat tidak produktif : “ Mandi sekarang ya kak!” ✅Kalimat produktif : “Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat Salam Ibu Profesional, /Tim Bunda Sayang IIP/ Sumber bacaan: Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000 Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015 Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014 Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar